Napak Tilas Batik Laweyan
KAMPUNG BATIK LAWEYAN DAN
GALERI BATIK YANG RAMAH
Satuhal
yang langsung saya tanyakan ketika saya mengunjungi Kampung batik laweyan
adalah, mengapa disebut Laweyan ?
Sejarah Laweyan
Seperti Ditulis Oleh R.T Mayadipuro dimulai sejak 600 tahun lalu, sebelum
munculnya kerajaan Pajang diawal abad
ke-15. Keberadaan Laweyan ditandai dengan bermukimnya Kyai Ageng Henis di desa
ini pada tahun 1546 M. Lokasi desa Laweyan awalnya disebelah utara pasar
Laweyan (sekarang kampung lor pasar Mati). Setelah Kyai Ageng Henis meninggal
dan dimakamkan di pesarean Laweyan, rumah Kyai Ageng Henis ditempati oleh
cucunya yang bernama Bagus Danang atau Mas Ngabei Sutowijoyo. Sewaktu Pajang
dipimpin Sultan hadiwijaya (jaka Tingkir) pada tahun 1568, Sutowijoyo lebih
dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar kemudian pindah ke Mataran
(kota Gede) dan menjadi raja pertama dinasti Mataram Islam dengan sebutan
Panembatan Senopati.
Menurut RT.
Mlayodipuro, aktifitas Laweyan dulunya terpusat di pasar Laweyan merupakan
pasar Lawe(bahan bkau tenun) yang sangat ramai. Bahan baku kapas pada
saat itu
banyak dihasilkan dari desa Pedan, Juwiring, dan Gawok yang masih
termasuk wilayah kerajaan Pajang.
Di masa
penjajahan belanda, pada tahun 1905 seorang saudagar batik bernama K.H
Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H Samanhudi.
Hingga kini rumah beliau masih ada dan ditempati oleh cucu dan keturunanya.
Untuk mengenang jasanya, di kawasan ini juga didirikan musium Samanhudi. Pada
tahun 1935 di kampung Laweyan bahkan telah berdiri koperasi batik pertama yaitu
“Persatoean Peroesahaan Batik Bumi Poetra Soerakarta”
Nuansa
yang terkesan klasik dan disampul rapih dengan penduduknya yang ramah,
senantiasa tanya ini dan itu, dari mana mas ?, kuliah dimana ? dan banyak
pertanyaan lain, yang membuat kita selalu nyaman berada di kampung batik
Laweyan, serta merasa kota Solo selalu menjadi tempat pulang yang ramah
pastinya.
Kisaran harga
yang ditawarkan relatif murah, tidak terlalu mahal dan pas buat kantong
mahasiswa. Jadi apa yang membuat teman-teman menunda untuk berkunjung ke
kampung batik laweyan ?

Komentar
Posting Komentar